Minggu, 20 Januari 2013

Alasan Mengapa Ibukota Di Pindah Dari Jakarta


     Para Presiden Indonesia terdahulu sudah punya gagasan untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke kota lain. Mereka sudah meramalkan Jakarta akan penuh sesak dan tidak ideal untuk menjadi sebuah ibukota negara. Ibukota memainkan peran yang sangat strategis bagi suatu negara , karena menjadi pusat dari berkumpulnya kekuasaan politik dan ekonomi , karena menjadi tempat kedudukan pemerintahan negara dan perwakilan rakyat (parlemen). Soekarno punya ide memindahkan ibukota ke Palangkaraya , Kalimantan Tengah tahun 1957. Sementara Soeharto pernah menggagas pusat pemerintahan digeser ke sekitar Jonggol , Kabupaten Bogor. Tapi niatan kedua Presiden ini tak jadi terlaksana. Sebenarnya memindahkan pusat pemerintahan bukan hal tabu. Pada umumnya , ibukota juga merupakan salah satu kota terbesar dan seringkali merefleksikan keunikan karakter suatu bangsa , seperti keberagaman suku bangsa , agama , kebudayaan , haluan politik , sejarah perjuangan dan pemersatu semangat kebangsaan.

Berikut alasan Jakarta sudah tak layak menjadi ibukota negara ;

1. Banjir
Jakarta dikepung banjir awal tahun ini. Siklus banjir lima tahun kali ini membuat 10.000 orang mengungsi. Tak kurang dari 39 kelurahan tergenang. Jumlah ini masih terus bertambah.

2. Macet
Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya , jumlah penjualan mobil di Jakarta mengalami peningkatan 11 persen pada 2012. pada Bulan April 2012 lalu , jumlah mobil dan motor di Jakarta mencapai 13.346.802 buah. Angka ini terus bertambah.

3. Padat dan sumpek
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta bulan November 2011 , tercatat ada 10.183.498 penduduk. Dengan tingkat kepadatan 15.427 penduduk per kilometer persegi.

4. Kumuh
Tahun 2011 , Badan Pusat Statistik melansir masih ada 392 rukun warga kumuh di wilayah DKI Jakarta. Sebelumnya tahun 2004 malah ada 640 RW kumuh dan menurun menjadi 416 RW kumuh tahun 2008. Rumah-rumah kardus berdiri sepanjang rel kereta api. Gang-gang sempit yang bahkan tidak bisa dilalui sepeda motor berderet di tengah-tengah kota hingga pinggiran Jakarta.

5. Sarana transportasi buruk
Idealnya sebagai pusat pemerintahan dan sentra bisnis , Jakarta memiliki sarana transportasi massal yang memadai. Tapi transportasi umum di Jakarta adalah mimpi buruk. Tengok saja jejalan penumpang busway dan kereta rel listrik di jam sibuk. Belum lagi ancaman pelecehan seksual di dua moda transportasi itu.
Naik angkot , Metromini atau Kopaja jauh lebih mengerikan. Ancaman copet , pemerkosaan hingga pengamen yang kerap memaksa membuat penumpang tak nyaman. Jakarta memang tertinggal jauh dari Kuala Lumpur , Singapura bahkan Bangkok sekalipun.

Sumber :
http://www.pkkod.lan.go.id/index.php?mod=5&det=16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar